NASIB TKW : SI PEJUANG DEVISA

Posted: November 22, 2010 in tugas

Bagaikan makan buah simalakama, di salah satu sisi negara kita membutuhkan penerimaan devisa asing untuk memperkuat perekonomian negara, sedangkan  di sisi lain banyak TKW yang menderita akibat ulah para majikannya di luar negeri (khususnya Arab Saudi dan Malaysia). Negara kita belum mampu untuk menjamin kesejahteraan bagi rakyatnya, juga belum mampu menciptakan keadilan sosial bagi rakyatnya. Padahal sudah jelas tercantum dalam Dasar Negara kita yaitu Pancasila sila ke-5 yang berbunyi ” Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Penderitaan TKW yang disetrika seperti baju, yang digunting bibirnya, yang dibunuh, yang dibuat buta, yang dijadikan cacat seumur hidup, yang diperkosa, dan masih banyak lagi modus kejahatan majikan lainnya, membuat miris dan geram bangsa kita. Rakyat tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka paling hanya bisa memaki dan melakukan demo di kedutaan-kedutaan besar negara majikan para TKW. Di sinilah peran pemerintah harus dominan. Bukan hanya mendatangi rumah para TKW yang terkena musibah, bukan hanya menyantuni keluarga TKW, tapi harus lebih dari itu, yaitu menjamin keamanan si TKW di luar negeri dan harus mampu menyeret para majikan jahat ke meja hijau.

Jika sudah ada kejadian penyiksaan terhadap para TKW, maka satu pihak menyalahkan si TKW yang tidak atau kurang memiliki keterampilan. Di pihak lain ada juga yang menyalahkan jasa pengirim tenaga kerja yang sering dilakukan secara ilegal, pihak lain menyalahkan kedubes atau perwakilan pemerintah di negara majikan, di lain pihak menyalahkan pemerintahan negara majikan, dan seterusnya. Padahal, seharusnya permasalahan tentang TKW dari mulai A sampai Z harus bisa diselesaikan oleh pemerintah.

Mulai dari informasi kebutuhan TKW dari negara majikan, pemantauan setiap saat para TKW yang bekerja di majikannya hingga bantuan hukum dan jaminan keamanan TKW di negara asing. Tapi pada kenyataannya, setiap ada kasus muncul sepertinya pemerintah kebakaran jenggot dan penanganannya terasa amat sangat lambat. Saking lambatnya, belum satu kasus selesai, kasus lain menyusul. Apalagi secara global nasional, sepertinya kasus satu dimunculkan untuk menutupi kasus sebelumnya, dan seterusnya hingga yang tersisa hanya kasus terakhir saja.

Contohnya kasus Century, sebenarnya kasus tersebut belum selesai, namun kemudian muncul lagi kasus Cicak vs Buaya, dan seterusnya, dan seterusnya, sehingga tidak ada satupun kasus yang diselesaikan secara tuntas. Bagaimana tentang nasib para TKW pejuang devisa jika pemerintah kita bersikap acuh tak acuh?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s